Resensi Film Drama Remaja Indonesia

Just another WordPress.com weblog

Film Virgin 2 : Ketika Keperawanan Tidak Lagi Dipertanyakan May 23, 2009

Filed under: Uncategorized — iparda @ 9:01 am

virgin2

Tahun 2005 lalu ketika film Indonesia belum sebanyak sekarang, ada satu film yang meledak dipasaran dan berhasil menjadi film terlaris tahun itu namun sekaligus menuai banyak kontroversi karena dianggap mengadoptasi budaya barat dimana sex bebas dihalalkan.

Disisi lain, film ini ternyata malah membuka realitas bagaimana sebenarnya wajah pergaulan remaja Indonesia di kota-kota besar.

Film Virgin yang pertama, pusat cerita berkutat di kehidupan tiga remaja puteri dan permasalahan seksualnya. Biyan yang masih menjaga keperawanannya ditengah godaan hebat kaum lelaki, Stella yang terobsesi menjadi seorang aktris hingga menghalalkan segala cara termasuk menjajakan tubuhnya demi mendapatkan sebuah peran, dan juga Ketie yang bahkan terpaksa menjual keperawanannya di toilet dan mobil demi bertahan hidup.

Di Virgin 2 : Bukan Film Porno center of point cerita dipersempit, terfokus pada kisah 2 orang remaja putri, Tina (Christina Santika) dan Nadya (Joanna Alexandra). Cerita berawal ketika noda hitam menimpa hidup Tina, seorang siswi SMU yang cuek dan pendiam. Tina diusir dari rumah karena dituduh telah menggoda kekasih ibunya, padahal kondisi yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya. Tina yang tidak punya tempat tinggal akhirnya bertemu dengan Steffi (Wichita Satari) yang dianggapnya sebagai malaikat penolong. Namun siapa sangka Steffie malah menjual Tina kepada seorang mucikari bernama Yama (Yama Carlos) yang kemudian memperkosa dan menjerumuskannya menjadi seorang pelacur.

Virgin 2 : Bukan Film Porno seakan ingin menekankan kalau ini adalah versi baru dan berbeda dari film Virgin yang tayang tahun 2005 lalu. Itulah sebabnya film ini tidak lagi memakai pemain-pemain lama, kursi sutradara yang dulu diserahkan kepada Hanny .R. Saputra kini dipercayakan kepada Nayato Fio Nuala. Film dengan label Indie Picture Production memilih Bandung dan Bogor sebagai lokasi pengambilan gambar untuk memberikan kesan basah agar mendapatkan efek dramatis dari film tersebut. Adapun penggarapan musiknya dipercayakan kepada Tya Subiakto untuk lebih menonjolkan unsur feminisnya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s